Hero, sang pahlawan

….. It doesn’t need too much to do to become someone’s hero Just do what you are usually doing.

Semasa  kecil dulu, sering ditanyakan apa cita-citamu kelak, yang selalu terbayangkan adalah menjadi sosok  yang dikagumi, dihormati, disenangi orang banyak serta mempunyai martabat yang lebih tinggi.  Hal ini disederhanakan dalam sosok profesi yang diyakini dapat mewujudkan harapan-harapan tadi. Entah itu menjadi seorang dokter, polisi, insinyur, jenderal atau malah jadi koboi di film Ivanhoe atau Jim West.

Anakku yang paling besar selalu berkata ingin menjadi seorang Tsubasa, si pemain bola yang handal. Sedangkan adiknya ingin menjadi seorang polisi atau petugas pemadam kebakaran, kemaren malah ingin jadi sponge bob. Tapi itu impian-impian masa kecil dulu. Dan sekarang cita-cita menjadi seorang Hero atau pahlawan, yang berguna bagi orang banyak, tidak lagi jadi impian orang-orang modern yang hidup di kota metropolitan ini. Tujuan hidupnya sangatlah straight forward,  memiliki materi/asset yang banyak agar dapat menikmati kehidupan yang layak , bersama keluarga, anak cucu, kalau bisa sampai lebih dari tujuh turunan gak habis-habis. (kasihan turunan yang kedelapan). Lebih rinci lagi, memiliki “kepribadian” yang mutlak, yaitu mobil mewah pribadi, rumah sekelas istana milik pribadi, perabotan modern pribadi yang serba lux serta sejumlah surat deposito/saham/tabungan bermiliar-miliar atas nama pribadi tentunya.

Kebahagiaan hidup selalu diukur dengan materi dan property, alhasil prinsipnya, semua bisa dibeli. Ingat iklan kartu kredit yang berbunyi : there is something that money can’t buy , namanya juga iklan, ujung-ujungnya mereka mengiklankan kartu kredit, yang notabene ya..si money itu tadi, untuk membeli apapun yang diinginkan.
Adalah Angela Ow, yang sehari-harinya tukang potong rambut di salonnya sendiri, yang mendedikasikan dirinya untuk memotong rambut orang-orang jompo secara gratis pada saat dia libur. Dia datang ke flat khusus orang jompo, merelakan waktu liburnya untuk menjadi seorang yang berguna bagi orang lain. Ada juga Aleena Tan, seorang ballroom dance teacher, yang dengan senang hati mengajar dansa bagi orang-orang cacat, agar mereka dapat bergembira, merasakan irama lagu untuk berdansa. Ada juga Mumtaz Hasanah, gadis15 tahun yang gemar membaca buku, tetapi dia bacakan buku cerita itu secara merdu untuk anak-anak lain yang mempunyai kelemahan daya pikir. Adalah Soleman Ngongo yang berasal dari Desa Tematana, Kecamatan Wawena Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia mengabdikan diri selama 40 tahun sebagai penjaga pintu air. Selain menjaga pintu air, di kawasan sumber mata air desanya, Soleman bersama kelompok tani juga menanam dua juta pohon untuk memperbaiki ekonomi produksi sawah seluas 2347 hektar. Adalah Bang Idin , pendiri komunitas Sanggabuana yang mempelopori penghijauan hutan di sekitar bantaran kali pesanggrahan Jakarta. Beliau menjadi inspirasi para pemuda untuk bergabung dan bersama-sama menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan bantaran kali pesanggrahan. Mereka adalah pahlawan yang berguna bagi komunitas di sekitarnya, atau setidaknya bagi sebagian orang-orang tadi. Ooh, sungguh indah dunia ini ketika berisikan orang-orang yang mempunyai keinginan seperti itu

“Keberhasilan seseorang bukan diukur dari apa yang dia capai, tetapi atas seberapa orang yang berhasil karena dia”.

Demikian yang pernah disampaikan Aa Gym dalam salah satu ceramah Manajemen Qalbu. Seorang direktur perusahaan yang sukses (menurut standar Aa Gym), bukan yang mampu meraih laba ataupun penjualan yang besar, tetapi diukur dari seberapa banyak karyawan yang mampu bekerja secara baik dan jujur, dalam organisasi yang dipimpinnya. Jika makin banyak karyawan yang bekerja baik serta jujur, tujuan perusahaan akan penjualan dan laba, pasti akan tercapai. Lalu, apa hakikatnya keberhasilan dalam kehidupan ini ? Tentunya terpulang kepada tujuan hidup kita masing-masing. Suara hati anak kecil yang selalu ingin menjadi pahlawan bagi orang lain, rasanya adalah cerminan jujur untuk tujuan hidup yang sejati. Menjadi pahlawan, yang semata-mata ingin hidupnya berguna bagi orang-orang serta alam sekitarnya, sesuai dengan tuntunan Yang Maha Kuasa.

 “Jauh lebih penting menjadi orang berguna, ketimbang menjadi orang penting”, itulah prinsip hidup Gola Gong, pengarang novel Balada Si Roy yang berasal dari Serang Banten. Walaupun tangan kirinya cacat, dia telah membuktikan bahwa dirinya menjadi orang yang lebih berguna daripada orang penting yang kedua tangannya utuh, tetapi tidak memberikan manfaat, malah mudharat bagi orang lain. Mari kita tanyakan pada orang-orang sekitar kita, seberapa berguna kita bagi mereka , bukan seberapa penting kita untuk mereka, semoga…..

Jadilah pahlawan yang berguna bagi sekitarnya.

Selamat Hari Pahlawan

Leave a Comment

Filed under opini pribadi

Entrepreneur – Intrapreneur – Teknopreneur

Dalam suatu sesi mata kuliah Entrepreneurship, para mahasiswa berdiskusi tentang arti dari entrepreneurship itu sendiri. Ada yg googling dari wikipedia dengan semangat menjelaskan artinya : ”adalah perbuatan inovasi produksi, keuangan atau bisnis yg mentransformasikan inovasi tersebut kedalam sesuatu yang bernilai ekonomi ”  (kira-kira begitu rangkuman dari paparan yang panjang lebar, lengkap dengan contoh kasusnya)

Ada yang langsung menjelaskan arti entrepreneurship ke contoh nyata tindakan Mas Mono, berjualan ayam bakar lengkap dengan strategi bisnis yang dikembangkannya. (kalau mau update, mungkin  akan mengambil contoh kasus si emak icih , yang booming , sukses me-repackage , sistem jualan serta varian produk kripik pedas yg sudah ada sejak dulu). Entrepreneurship, bisa bebas dijelaskan/ditafsirkan menurut pemahaman pembicara dan juga selera audience, yang paling penting pesan yg ingin disampaikan dapat berhasil diterima oleh récipient.

Entrepreneurship is the act of being an entrepreneur, which can be defined as “one who undertakes innovations, finance and business acumen in an effort to transform innovations into economic goods”. (wikipedia)

Semangat entrepreneurship ini disinyalir berujung kepada menurunnya etos kerja para pegawai (baik pegawai negeri ataupun swasta), jika diterjemahkan harus punya usaha sampingan yang akan dapat meningkatkan income. Apalagi setelah banyak beredar buku ” Rich Dad, Poor Dad ” yang fenomenal itu. Waktu, konsentrasi, loyalitas, perhatian menjadi terbagi antara pekerjaan dan usaha sampingan.

Lalu, kalau buat para ‘buruh kapitalis’ alias para pekerja – bahasa kerennya profesional-,  bagaimana seharusnya mentransformasikan semangat entrepreneurship ini di dunia pekerjaan mereka  dalam konteks produktivitas ?.

Contoh kecil di pabrik tempat kerja sekarang, bagaimana seorang supervisor produksi memberikan ide untuk menampung seluruh air kondensat buangan kompresor udara untuk dipakai mencuci kendaraan dan menyiram tanaman (catatan: compressor udara di tempat kami, kapasitasnya ada yg 42,000 m3 per jam dan ada beberapa unit). Singkat cerita, saving per tahun bisa sampai 60 juta rupiah, mungkin kecil bagi perusahaan, tetapi rupanya semangat inovasi ini menular, setelah dalam sebuah acara , manajemen memberikan apresiasi kepada karyawan tsb. Akhirnya program usulan ide inovasi ini diperlombakan, dan perusahaan bisa mendapatkan ide-ide efisiensi dari ‘shop floor’, yang terkadang terlewatkan. Impact terhadap penurunan biaya produksi terasa signifikan. Mungkin beginilah semangat inovasi dari ”terjemahan” Intrapreneurship  yang diadaptasi dari semangat entrepreneurship, walaupun dalam hal ini, apresiasi yang didapat hanya sebatas reward, tidak seperti usaha sampingan. No pain No Gain !!!

Contoh lain dalam menerapkan entrepreneurship bagi kaum pekerja adalah meneruskan keahlian yang didapat semasa menjadi ‘buruh kapitalis’ , ketika memutuskan untuk ‘lulus’ sebagai kelas pekerja dan memulai berusaha sendiri dengan keahlian serta networking yang dimiliki, menjalankan bisnis dengan skala lebih kecil dan mengembangkannya menjadi besar, syukur-syukur selevel atau lebih dengan tempat bekerjanya dulu. Banyak pengusaha yang merintis karir tersebut, walaupun tidak sedikit yang ‘tertatih-tatih’ mengembangkan bisnisnya.

Ada lagi istilah Teknopreneur , yang sedang jadi trending topic , saat-saat ini. Istilah yang mengandung pengertian jiwa pengusaha (entrepreneur) yang melakukan inovasi produk atau business system, dengan mengaplikasikan teknologi sebagai added value yang ditawarkan. Teknopreneur dinilai lebih sustain (kokoh/kuat) dalam menjaga kelangsungan usahanya karena melibatkan teknologi mutakhir sebagai entri barrier dalam berkompetisi. Selain itu juga, peran teknologi diharapkan mendorong kemajuan industri dengan cara inovasi dari produk serta peningkatan sumber daya manusianya.

#Selamat berjuang para entrepreneur – salam Indovasi (Indonesia berinovasi)

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Belajar dari caddy yang gak pake BH

Pagi buta, pak Hasan sudah menemaniku, mengerek trolley golf bag memulai tee-off dari Hole-1. Aku mungkin terlambat untuk bermain bola pukul seperti ini, tetapi karena beberapa kali tak berdaya, ketika diajak kolega bermain, akhirnya ‘idealisme’ anti golf-ku pudar, dan sekarang aku berbagi waktu antara golf, biking dan sleeping.

Pak Hasan, asli orang betawi, udah duapuluhan tahun lebih, setia menemani para golfer bermain. Ada golfer kalangan petinggi Negara, dari kelas kolonel muda yang bersinar dan terus melaju menjadi perwira bintang empat, dari kelas asistennya, asisten staff ahli asisten wakil menteri (ada lho yang punya jabatan begini), sampai  para menteri kabinet, baik yang kena reshuffle ataupun yang selamat. Kabinet boleh di-reshuffle, menteri bisa berganti, tetapi pak hasan tetap setia menemani mereka di lapangan hijau.

Ibu-ibunya senang, kalau yang menemani para suami mereka, caddy yang gak pake BH seperti saya

“Dijamin bakal bebas perselingkuhan dengan caddy nya” tukasnya terkekeh, apalagi setelah santer kasus Antasari, peran para caddy yg gak ber-BH ini menjadi semakin laris menemani para pejabat bermain golf. (mungkin ketemu dengan caddy ber-BH nya gak di lapangan golf lagi deh, he he he)

Pak Hasan, awalnya lebih banyak diam membiarkan aku berjuang keras mengayun-ayunkan stick agar kena bolanya. Baru ketika beberapa kali pukulanku meleset, dia sedikit-sedikit memberikan arahan cara bermain yang benar.

Pak Hasan selalu setia memberikan advise, walau kadang didengar, kadang dicuekin, tapi bagaimanapun hasil pukulan, dia tak pernah mencela, malah memberikan semangat agar lebih baik lagi. Pak Hasan, tipe asisten “pengatur” di belakang layar, yang ketika pemain stroke mendapat ‘par’ atau ‘birdie’, pujian tak pernah diarahkan kepadanya.

Kadang menjadi seorang ‘teman’ yang setia mendengan keluhan tuannya, ketika sang tuan ngomong politik, setidaknya pak Hasan mengimbangi dengan mengiyakan statemen-statemen tuannya. Ketika menemani para eks-pejabat yang terpinggirkan oleh zaman, kisah sukses story masa lalunya, menjadi bahan obrolan disepanjang permainan, walaupun pak Hasan sudah tahu, karena cerita itu selalu berulang. Ketika menemani tokoh yang sedang naik daun, pak Hasan perlu berhati-hati ‘mengarahkan’ permainan dan obrolan. Kalau main jelek, sudah pasti sumpah serapah ataupun bantingan stick dari tuannya. Kalaulah permainan bagus, bolehlah berharap ‘tips’ yang besar di akhir game nanti.

Sampai di tee-box hole 6 , rintangan kolam air membentang didepan, sehingga diperlukan pukulan pertama yang sempurna agar bola sampai di seberang kolam.

Pak Hasan mengambil bola crystal yang bagus berwarna kuning pula, kontan aku menolaknya “sayang pak, takut masuk ke air” ujarku tidak setuju dan meminta dipakai bola putih yang biasa, kalo bisa bola yang jelek. Tapi pak Hasan menyemangatiku, “Pak, kalau belum apa2, bapak berpikir pukulan tidak akan sampai, pasti bola masuk ke air” tukasnya. “Coba pakai bola yang bagus, agar Bapak terpaksa harus memukul bagus, biar gak sia-sia dan kehilangan bola ini”.

“Lho, kalo didepan ada resiko masuk ke air, masak kita malah make bola yang bagus?, itu mah konyol dong…” ujarku tak setuju.

“Kalo Bapak gak yakin bisa lewatin air, mending gak usah dipukul, pak….sayang bolanya” jawab pak Hasan lagi. “Ya sudah, kita pakai bola bagus dech..” akhirnya aku mengalah.

Karena yang dipasang bola yang bagus, harganya mahal pula, otomatis aku mejadi sangat berhati-hati dalam persiapan memukul, dan konsentrasi ku bertambah untuk mendapatkan strike yang sempurna.

Setelah dua kali melakukan practice memukul tanpa bola, aku pun bersiap, mencari posisi yang pas. Driver kupegang dengan grip sempurna, pandangan mata tetap mengarah ke bola, tarikan ancang-ancang swing perlahan dan woosh, swing pun diarahkan tepat ke bola.

”Tokkk”, bunyi ‘head’ mengenai bola sempurna dan bola pun melayang, melewati kolam mendarat aman dihamparan fairway diseberang kolam. ‘Yess !!’ akupun bersorak.

Aku pun tersenyum lega, ku ajak pak Hasan untuk ‘toss’ dengan riangnya.

 Hari ini aku mendapat pelajaran dari pak Hasan, untuk tegas memasang ‘target’ yang berani dan menaruh resiko lebih tinggi tetapi terukur, agar dalam melakukan usaha menjadi lebih keras dan berharap pencapaian hasil lebih maksimal.

Terima kasih, pak Hasan…!!!

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Abdurrahman ibn Abu Bakar RA

Ketika fajar tiba, Sa’d Abdullah ibn Utsman, nama Abu Bakar RA sebelum datangnya Islam, sangat bergembira  atas kelahiran putra pertamanya dari sang istri Ummu Rumman. Diberilah nama Abdurrahman, yang tumbuh menjadi pemuda gagah seperti kebanyakan penduduk kota Makkah lainnya.  Abu Abdurrahman, begitulah dahulu panggilan Abu Bakar RA, yang menunjukan ayah dari Abdurrahman.

Ketika Muhammad SAW menyeru penduduk Makkah menerima Islam sebagai agama tauhid, Abu Bakar RA ,  sahabat dekat Nabi kala itu, menjadi yang pertama-tama masuk Islam, tetapi sang putra, Abdurrahman termasuk yang menentang dan memusuhi Islam, seraya memegang teguh kepercayaan jahiliyahnya terhadap penyembahan berhala ketika itu. Walaupun Abu Bakar RA dan sang ibunda, Ummu Rumman, berulang kali mengajaknya untuk menerima keislaman yang dibawa Nabi SAW, Abdurrahman selalu menolaknya.

 “Dan orang yang berkata kepada ibu bapaknya, ‘Cis, bagi kalian berdua, apakah kalian memperingatkan bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?’ Lalu ibu bapaknya memohon pertolongan kepada Allah SWT seraya berkata: ’Celakalah kau, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah itu benar.’ Lalu ia berkata ‘Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang terdahulu” (QS Al Ahqaf : 17)

Kesesatan Abdurrahman dalam menentang ayah ibunya, oleh sebagian mufasir, dirujukan dalam asbabul nuzul (kisah dibalik turunnya ayat Al Qur’an), surat Al Ahqaf : 17. Pada saat Nabi beserta para sahabat hijrah ke Mekkah, Abdurrahman ibn Abu Bakar RA, menjadi salah satu tokoh Quraisy yang menentang dan menghalanginya.  Pun ketika perang Badar terjadi, Abdurrahman berada dipihak kaum kafir Quraisy dan ikut memerangi kaum muslimin yang berada di Madinah. Abu Bakar RA, sebagai ayahnya, selalu mendo’akan agar anaknya diberikan hidayah untuk masuk agama islam. Allah SWT mendengar dan mengabulkan do’a Abu Bakar RA dan akhirnya Abdurrahman ibn Abu Bakar RA menyatakan dirinya menerima keislaman yang diserukan Nabi Muhammad SAW. Betapa bergembira hati Abu Bakar RA, ketika menerima kabar tentang anaknya tersebut, tetapi Ummu Rumman telah wafat ketika kabar baik itu tiba. Abdurrahman adalah kakak dari Aisyah RA, istri Nabi SAW, yang dalam suatu kisah, ketika menjelang Nabi wafat dipangkuan Aisyah RA, Abdurrahman masuk ke kamar menengok Nabi yang sedang sakit dan Nabi sempat berkata : ‘ Wahai saudaraku yang mulia…” Abdurrahman menjadi salah satu pembela islam yang berjuang melanjutkan syiar islam setelah Nabi wafat. Dibawah kepemimpinan kalifah Abu Bakar RA, Abdurrahman banyak berperan dalam memerangi kaum yang murtad dan enggan membayar zakat. Dia menjadi pembela ayahnya yang paling setia dan berani.  Ketika masa perseteruan kekalifahan Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah ibn Abu Sufyan, Abdurrahman menyisihkan diri dan tidak terlibat didalamnya. Di masa kekalifahan Muawiyah, adik Abdurrahman, Muhammad ibn Abu Bakar RA, yang menjadi gubernur Mesir di masa kalifah Ali bin Abu Thalib, dibunuh oleh orang-orang Muawiyah. Abdurrahman tidak pernah merestui kepemimpinan Muawiyah, terlebih ketika Muawiyah memintanya membai’at anaknya Yazid ibn Muawiyah untuk menjadi kalifah penggantinya, dengan mengirim hadiah seratus ribu dirham. Namun Abdurrahman menolaknya dengan tegas dan berkata: “Aku tidak akan menjual agamaku untuk dunia”.

Abdurrahman wafat di dalam perjalanan dari Madinah ke Mekah, sekitar 15 Km sebelum Mekah. Jasadnya dimakamkan disana pada tahun 53 H. Allah SWT merahmati Abdurrahman ibn Abu bakar RA dan memaafkan keterlambatannya memeluk islam. Semoga Allah menganugerahi segala kebaikan serta perjuangan dan pengorbanannya untuk islam dan kaum muslimin. Aamiin.

(disadur dari kisah2 sahabat Nabi dalam buku Asbabul Nuzul Al Qur’an)

Leave a Comment

Filed under belajar kaffah

KIASU dan KIASI

Suatu malam ketika bertugas di negeri Singa, aku diundang makan malam oleh kolegaku disana, dia mengajak istri dan kedua putrinya yang imut-imut. Karir dan bisnis yang ditekuninya mulai menampakan hasil yang lumayan. Kolegaku ini juga pernah tinggal di kawasan Cipanas Puncak dan sang istri pernah bersekolah di kota Bandung, sehingga obrolan kami seputar keluarga, tempat-tempat di Cipanas, makanan khas Bandung sampai cerita-cerita kehidupan di kota Singapura, yang terkenal sebagai kota denda . Sampailah pada kisah tragis yang dialami tetangganya, ketika si Ayah, kepala keluarga, meninggal karena kanker pada usia late thirty, meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil, sama seperti usia kami sekarang. Terlihat jelas, kekhawatiran kolegaku ini terhadap kematian yang bisa saja terjadi kapan saja. Ketika keluarga mulai menikmati “kesuksesan” yang diraihnya, ketika anak-anaknya yang sehat dan lucu sedang membutuhkan naungan kepala keluarga, ketika cicilan rumah dan mobil yang sudah terbayar sehingga mereka mempunyai rencana berlibur bersama keluarga ke luar negeri, ketika perjuangan hidup separuhnya terlampaui dan mulai mencicipi hasilnya. Kematian seolah akan menghancurkan cita-cita mereka semua.

Dalam kultur  Chinese Singaporean, memang ada dua ketakutan yang banyak mempengaruhi sikap hidup mereka, at least terhadap kolegaku ini.

Ketakutan pertama bernama Kiasu yang dalam bahasa gampangnya takut rugi (afraid to loose). Ketakutan yang membuat seluruh langkah dalam hidupnya terencana dengan jelas serta terukur semua resiko yang boleh dihadapi. Ketakutan untuk kehilangan sesuatu, bangkrut atau gagal, terlihat seakan mereka begitu protektif dengan segala yang mereka punya dan selektif terhadap usaha yang mereka jalankan. Padahal tadinya, aku berpikir bahwa orang Singapore, yang terkenal gemar berjudi serta risk taker, ternyata mereka sangat berhitung terhadap resiko kerugian yang mungkin didapat.

Dan ketakutan yang lain adalah Kiasi, yang berarti takut mati (afraid to die), sehingga mereka begitu ‘concern‘ terhadap apa yang mereka makan, terhadap penyakit yang bisa menjangkiti serta keamanan jiwa dari tindak kriminal. Begitu berita bom London terjadi, pemerintah sana segera menambahkan polisi di tempat-tempat publik serta kamera-kamera pengintai di setiap sudut station kereta bawah tanah. Aku juga teringat seorang kolega Singaporean, yang begitu khawatir akan racun arsenic yang bisa saja diberikan lewat minuman di kantornya, sehingga setiap hari dia membawa minuman mineralnya sendiri dari rumah. Hal itu terjadi setelah mendengar berita kematian Munir yang diduga terkena racun arsenic. Bener-bener paranoid!!

Kiasu dan Kiasi langsung atau tidak langsung, menjadikan kehidupan mereka cashless society (semua transaksi memakai cash card atau credit card), yang sangat bergantung kepada “pengaturan masyarakat” yang sangat ketat. Mereka rela jika undang-undang membatasi ruang kebebasan yang dipunyai, asalkan kehidupan mereka terjamin dengan sebuah kepastian keamanan hidup. Mereka pasrah terhadap “pengatur publik” untuk mengendalikan hidup mereka.

Padahal hakikinya, kerelaan serta kepasrahan yang mereka punyai adalah relative, bukan mutlak, Kepasrahan hanya kepada Allah SWT, sang Khalik dan Pemilik alam semesta. Siapa yang dapat menjamin bahwa kesejahteraan yang dimiliki sekarang akan langgeng? . Siapa yang akan memastikan bahwa anak-anak mereka akan mendapatkan dan menikmati hasil kerja keras yang mereka lakukan sekarang. Tak seorangpun dapat menjaminnya, kecuali Sang Maha Kuasa. Allahu Akbar!!

Ah, you sound ustad now, do not too religious, no worry for your life after your death-lah”. sergah kolegaku ketika diskusi mulai menghangat.

Dugaanku sementara adalah kecintaan mereka terhadap dunia secara berlebihanlah, yang menjadikan  mereka para Kiasu-wan dan Kiasi-wan.

Aku jadi teringat tingkah polah para Bonek, yang sangat tidak Kiasu maupun Kiasi terkadang, tetapi mereka memang tidak memiliki asset yang dikiasu-kan dan mereka terkadang tidak mempunyai hidup yang layak yang dikiasi-kan. Lalu apakah mereka ini juga termasuk orang-orang yang pasrah atau putus asa??

Rasanya perlu belajar banyak lagi, dalam memahami keragaman pandangan hidup ini.

(Recycle from www.rkyu.blogdrive.com)

 A to Z of Kiasu….(from www.asianjoke.com)

Always must win Never mind what they think
Borrow but never return Outdo everyone you know
Cheap is good Pay only when necessary
Don’t trust anyone Quit while you are ahead
Everything also must grab! Rushing and pushing wins the race
Free! Free! Free! Sample are always welcome
Grab first talk later Take but don’t give
Help yourself to everything Unless it’s free forget it
I first, I want, I everything Vow to be number one
Jump queue Winner takes it ALL! ALL! ALL!
Keep coming back for more Yell if necessary to get what you want
Look for discount Zebras are kiasu because they want to
Must not lose face be both black and white at the same time

Leave a Comment

Filed under keluarga, opini pribadi

MAY DAY, Apa yang kau harapkan ??

 Tweet @faisalbasri: “ Buruh Sejahtera Kunci Peningkatan Produktivitas” #1May

May Day, bukanlah teriakan minta tolong diserang musuh, atau keadaan gawat darurat, tetapi Hari dimana seyogyanya seluruh buruh di dunia merayakannya. Momentum hari buruh internasional ini, dipakai oleh beberapa elemen/faksi/kelompok atau apalah namanya, untuk menyuarakan kegetiran, kepahitan serta keteraniyayan yang diterima para buruh. Katanya, “Kaum buruh mesti dibela, disokong, didukung, atau entahlah apa istilahnya, agar hidupnya sejahtera, bahagia, tentram dan makmur“.  Buruh selalu terjepit, jika usaha untung mereka terlupakan jasanya, Tapi jika usaha rugi, sudah pasti yang pertama dan paling nyata terkena dampaknya, yaitu Pe Ha Ka. . Buruh seakan terjebak dalam posisi yang pertama ditumbalkan demi menghindari dampak sistemik dari kehancuran sebuah usaha……….#apa iya??

Kata-kata sohor dari sang maestro ahli manajemen nasional yang selalu terpakai kerjanya oleh presiden 4 jaman, ketika menakhodai PT Timah yang menghadapi ancaman kebangkrutan total akibat harga jual yang anjlok kala itu :

“Kita ibarat disebuah perahu besar yang terancam karam, sebagian penumpang harus berkorban turun demi menyelamatkan perahu ini dan juga penumpang yang lain”

Begitulah kalimat penghibur yang menghantarkan ribuan karyawan untuk sukarela di PHK dengan istilah Golden Shakehand. Banyak diantara mereka menjadi kaya mendadak, karena uang pesangon yang begitu buanyak, tapi tak lama jatuh miskin, tak tahu bagaimana menginvestasikan modalnya. Begitu pula ketika PT DI, industri dirgantara yang dibanggakan secara nasional, harus merumahkan para karyawannya demi stabilitas perusahaan. Jika kita mau jujur, tak ada yang mau diputus kerja atau kehilangan nafkah, apalagi jika sudah berkeluarga. Namun apa daya, nasib enak kadang tak selalu memihak. Dalam dunia kapitalis, sulit rasanya mendapat perlakuan fair bagi para pekerja. Jargon perusahaan GO GREENkeep natural resource for tommorow , membantu meningkatkan skill pekerja lokal, sampai iming-iming nasionalisasi top management, banyak berujung kontroversi. Sang Pemilik Modal, entah itu multi nasional ataupun perusahaan keluarga lokal, ibaratnya tetap saja sang tuan tanah (land owner). Mereka , by the fact, adalah kaum pemilik kekayaan, yang akan selalu menjaga kemakmurannya, dengan siasat apapun.

“Dengan modal sesedikit mungkin, untuk mendapatkan untung sebanyak mungkin” #capitalism quote.

Kaum buruh (dalam strata pekerja kelas bawah), Kaum menengah (strata supervisor) dan Kaum Professional (strata manajemen), hakikatnya adalah BURUH yang diberi gaji setiap bulan atas upayanya menjaga kelangsungan usaha serta mendatangkan keuntungan. Birokrasi, yang memegang otoritas agak dunia usaha berjalan fair serta mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh stakeholder di dunia usaha. Sejatinya memang demikian rule of the game-nya, tetapi yang ada sekarang, birokrasi dipakai sebagai alat untuk keuntungan (lihat segala punggutan yang berdalih retribusi, perijinan, wining fee, jasa konsultasi, uang aman dan sebagainya). Kaum professional, merasa sudah sepantasnya menjadi pemimpin, atas usaha kerasnya belajar menuntut ilmu di bangku kuliah, sehingga ilmu keminternya itu mengikuti ideologi capitailsm, agar mendatangkan keuntungan sebanyak-banyaknya, demi bonus yang akan diterima melimpah ruah, syukur-syukur cukup dana buat berhijrah menjadi pemilik modal masa depan. Kaum menengah, harus pintar bermain aman, kadang bermuka lusuh menengadah, mengharap dukungan dari bawah. Kadang berganti wajah semangat optimisme, mendapatkan kepercayaan dari sang atasan untuk membuktikan pengabdian pekerjaannya. Terkadang bermain sabetan di celah yang sempit, walau nyerempet undang-undang criminal, salah-salah kena pasal berujung gelar narapidana. Kaum professionalpun bisa tergoda melakukan praktek haram ini, dan makin gede sabetan yang didapatnya. Kaum buruh kelas bawah, menggeliat gerah akibat himpitan kerasnya hidup ditengah metropolitan. Keluarga tak sempat diurusnya, kerja keras setiap hari dilakukannya, bahagia hanyalah upaya melupakan sengsara. End of this story, hanyalah kepasrahan serta keikhlasan untuk tetap berjalan diatas manhajul haq, yaitu kebenaran yang diajarkan oleh agama kita, yang insya Allah akan menuntun kita kepada kehidupan yang lebih baik. Ketekunan serta kearifan dalam bertindak, berlaku jujur serta amanah, itulah hakikat hidup yang diperlukan agar bisa merubah wajah kapitalisme dunia menjadi lebih beradab. Berupaya untuk menjalankan syariat agama sekuat tenaga dalam kehidupan dunia demi bekal kehidupan akhirat, berderma infak shadaqoh amal jariyah agar harta terbagi rata pada yang papa, bersikap menolak terhadap kesenangan dunia yang berlebihan, apalagi yang melawan larangan-Nya (hedonisme). #semoga ini tidak hanya sebatas tumpahan kata

Leave a Comment

Filed under opini pribadi

Habis Gelap (akankah) terbitlah terang ??

 

Wanita paruh baya itu terlihat berjalan pelan, mengikuti sang suami yang menarik gerobak butut. Cucuran keringat bercampuran debu jalanan, menambah rautan suram di wajahnya. Entah apa yang mereka cari di pagi itu, karena didalam gerobak, ada dua bocah yang sedang bercanda tertawa-tawa, sambil memainkan pistol-pistolan plastik yang sudah lapuk. Sekilas rekaman pemandangan sehari-hari kota besar di negeri ini, di antara semilir udara berpolusi di pagi  hari, terselip diantara roda-roda kendaraan yang bergegas pergi. Matahari nampak bersembunyi, seakan malu melihat sang kaya menggelinding dalam kemacetan diatas mobil mewah seperti punyanya Melinda Dee, jemari asyik menjentik memainkan ipad, entah apa yang dilihatnya. Tak mau melirik sekerlingpun pada gerobak butut disampingnya. Awan mendung menggantung, seakan ikut murung, menemani wajah lusuh wanita paruh baya, melangkah gontai , pasti belum sarapan pagi.

Potret Kartini miskin di masa kini, yang harus turut apa kata suami, juga harus mengurus anak dan panci, membersihkan gubuk kertas yang selalu hancur diterpa hujan, menyiapkan makanan buat anak-anak, sedapatnya, seadanya.

Tapi mungkin Kartini tak akan kecil hati, bila melihat nasib wanita lain masa kini. Para wanita karir yang melenggok anggun, berjalan di pelataran gedung-gedung perkantoran bertingkat. Kaki diatas High heel, pundak bersandang handbag Lockit new arrival, hidung bertengger kacamata Gucci, badan semerbak BVLGARI Soir serta stellan blazer perancang ternama, menjadi dress code ikon Kartini modern hari ini. Mudah-mudahan Kartini boleh berbangga pada mereka.

Nun jauh, di tanah Saudi sana, atau di seberang negeri-negeri jiran, beribu-ribu Kartini mengais rejeki demi mengangkat harkat martabat buah hatinya kelak. Ada yang bernasib mujur, bekerja jujur, dan dapat majikan yang santun dan makmur. Jika beruntung, uang bisa ditabung dan aman dari jarahan tikus-tikus yang mengaku mengurus kepergian mereka. Gaji besar bisa menjadi bekal buat hidup anak-anaknya nanti, walau resiko suami di negeri sendiri tak tahan, selingkuh mencari istri lagi.

Namun ada jua, yang merana dinegeri seberang sana. Mendapat tuan yang ringan kata, ringan tangan , mudah menampar, gampang menendang. Kalau Cuma cercaan bisalah sabar, jika sudah setrika mengena badan, siapa yang bisa tahan?. Negara hanya bisa berkata prihatin, menyalahkan mereka yang tak ikut jalur formal. Padahal banyak sekali musang berdasi yang menunggu mereka untuk dimangsa. Para musang penipu, asalkan bisa ambil uang jasa dimuka, menyebrangkan ke negeri tujuan,  tak punya trampil tak apalah. Mudah-mudahan ada yang berbaik hati disana ada mengajarkan. Sontoloyo!!

Sungguh ironi nasib Kartini ini. Diharapkan menjadi srikandi yang bisa membawa devisa berpundi-pundi. Apalah daya, terkadang harus pulang dengan mengenakan peti mati.

Kartini karir cerdas, brilian, modern layak dipuja, menjadi kebanggaan Negara dan keluarga, berbalut busana rapih mempesona. Sungguh membuat Kartini bangga. Mudah-mudahan mereka juga berhasil membina rumah tangga.

Kartini kelas menengah, berjuang menata keluarga, kadang harus membantu mencari nafkah keluarga.

Kartini bernasib buruk, termarjinalkan, terlupakan, terpinggirkan. Harus rela hidup dikolong jembatan di negeri orang. Lapar dahaga sudah pasti kedinginan dan putus asa. Sementara para birokrat sibuk mencari cara upaya, agar terlihat sukses menjadi dewa penolong dan akan terpilih kembali diperiode datang. Sama saja seperti sang musang!!

Ach….kau juga sama saja………hanya bisa bicara menggugat, menumpah kata sumpah serapah.

Dan seperti biasa, diakhir penutup kata, kembali hanya bisa berujar: “ Let’s pray for them“ 

Ijinkan ku menyapa Selamat Malam Kartini-Kartini,

Gelap belumlah habis, Terangpun entah kemana.

(21 April 2011, Ironi Kartini masa kini)

Leave a Comment

Filed under opini pribadi, Uncategorized