….. It doesn’t need too much to do to become someone’s hero Just do what you are usually doing.
Semasa kecil dulu, sering ditanyakan apa cita-citamu kelak, yang selalu terbayangkan adalah menjadi sosok yang dikagumi, dihormati, disenangi orang banyak serta mempunyai martabat yang lebih tinggi. Hal ini disederhanakan dalam sosok profesi yang diyakini dapat mewujudkan harapan-harapan tadi. Entah itu menjadi seorang dokter, polisi, insinyur, jenderal atau malah jadi koboi di film Ivanhoe atau Jim West.
Anakku yang paling besar selalu berkata ingin menjadi seorang Tsubasa, si pemain bola yang handal. Sedangkan adiknya ingin menjadi seorang polisi atau petugas pemadam kebakaran, kemaren malah ingin jadi sponge bob. Tapi itu impian-impian masa kecil dulu. Dan sekarang cita-cita menjadi seorang Hero atau pahlawan, yang berguna bagi orang banyak, tidak lagi jadi impian orang-orang modern yang hidup di kota metropolitan ini. Tujuan hidupnya sangatlah straight forward, memiliki materi/asset yang banyak agar dapat menikmati kehidupan yang layak , bersama keluarga, anak cucu, kalau bisa sampai lebih dari tujuh turunan gak habis-habis. (kasihan turunan yang kedelapan). Lebih rinci lagi, memiliki “kepribadian” yang mutlak, yaitu mobil mewah pribadi, rumah sekelas istana milik pribadi, perabotan modern pribadi yang serba lux serta sejumlah surat deposito/saham/tabungan bermiliar-miliar atas nama pribadi tentunya.
Kebahagiaan hidup selalu diukur dengan materi dan property, alhasil prinsipnya, semua bisa dibeli. Ingat iklan kartu kredit yang berbunyi : there is something that money can’t buy , namanya juga iklan, ujung-ujungnya mereka mengiklankan kartu kredit, yang notabene ya..si money itu tadi, untuk membeli apapun yang diinginkan.
Adalah Angela Ow, yang sehari-harinya tukang potong rambut di salonnya sendiri, yang mendedikasikan dirinya untuk memotong rambut orang-orang jompo secara gratis pada saat dia libur. Dia datang ke flat khusus orang jompo, merelakan waktu liburnya untuk menjadi seorang yang berguna bagi orang lain. Ada juga Aleena Tan, seorang ballroom dance teacher, yang dengan senang hati mengajar dansa bagi orang-orang cacat, agar mereka dapat bergembira, merasakan irama lagu untuk berdansa. Ada juga Mumtaz Hasanah, gadis15 tahun yang gemar membaca buku, tetapi dia bacakan buku cerita itu secara merdu untuk anak-anak lain yang mempunyai kelemahan daya pikir. Adalah Soleman Ngongo yang berasal dari Desa Tematana, Kecamatan Wawena Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia mengabdikan diri selama 40 tahun sebagai penjaga pintu air. Selain menjaga pintu air, di kawasan sumber mata air desanya, Soleman bersama kelompok tani juga menanam dua juta pohon untuk memperbaiki ekonomi produksi sawah seluas 2347 hektar. Adalah Bang Idin , pendiri komunitas Sanggabuana yang mempelopori penghijauan hutan di sekitar bantaran kali pesanggrahan Jakarta. Beliau menjadi inspirasi para pemuda untuk bergabung dan bersama-sama menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan bantaran kali pesanggrahan. Mereka adalah pahlawan yang berguna bagi komunitas di sekitarnya, atau setidaknya bagi sebagian orang-orang tadi. Ooh, sungguh indah dunia ini ketika berisikan orang-orang yang mempunyai keinginan seperti itu
“Keberhasilan seseorang bukan diukur dari apa yang dia capai, tetapi atas seberapa orang yang berhasil karena dia”.
Demikian yang pernah disampaikan Aa Gym dalam salah satu ceramah Manajemen Qalbu. Seorang direktur perusahaan yang sukses (menurut standar Aa Gym), bukan yang mampu meraih laba ataupun penjualan yang besar, tetapi diukur dari seberapa banyak karyawan yang mampu bekerja secara baik dan jujur, dalam organisasi yang dipimpinnya. Jika makin banyak karyawan yang bekerja baik serta jujur, tujuan perusahaan akan penjualan dan laba, pasti akan tercapai. Lalu, apa hakikatnya keberhasilan dalam kehidupan ini ? Tentunya terpulang kepada tujuan hidup kita masing-masing. Suara hati anak kecil yang selalu ingin menjadi pahlawan bagi orang lain, rasanya adalah cerminan jujur untuk tujuan hidup yang sejati. Menjadi pahlawan, yang semata-mata ingin hidupnya berguna bagi orang-orang serta alam sekitarnya, sesuai dengan tuntunan Yang Maha Kuasa.
“Jauh lebih penting menjadi orang berguna, ketimbang menjadi orang penting”, itulah prinsip hidup Gola Gong, pengarang novel Balada Si Roy yang berasal dari Serang Banten. Walaupun tangan kirinya cacat, dia telah membuktikan bahwa dirinya menjadi orang yang lebih berguna daripada orang penting yang kedua tangannya utuh, tetapi tidak memberikan manfaat, malah mudharat bagi orang lain. Mari kita tanyakan pada orang-orang sekitar kita, seberapa berguna kita bagi mereka , bukan seberapa penting kita untuk mereka, semoga…..
Jadilah pahlawan yang berguna bagi sekitarnya.
Selamat Hari Pahlawan