“Garuda di dadaku….Garuda kebanggaanku….kuyakin hari ini pasti MENANG”
Gara-gara semalam lihat video klip Indah Dewi Pertiwi, yang dikasih remote ajaib sama Budi Anduk, mimpiku semalam seperti film Quantum Leap. Tiba-tiba aku berada diantara Bustomi dan Oktovianus Maniani, menyanyikan lagu Indonesia Raya, di lapangan Gelora Bung Karno. Riuh gemuruh suara penonton , seolah angin tornado yang menyelubungi lapangan hijau yang ku injak. Lagu Garuda didadaku memekikan semangat dalam kepalaku. Kulihat nomor di dada kananku, Tujuh Belas !!! .….wadoh, gak salah nich ?. Belum sempat hilang rasa kagetku, seolah baru tersadar dari amnesia, seseorang dari belakang menepukku.. : ‘ Come on, boy. Give your best !!’ , Masya’ Allah, Gonzales ternyata…..!! Sementara kulihat Firman Utina, mengacungi jempol sambil tersenyum.. Sempat kulihat tangan kananku yg penuh tatoo dan ku rapihkan belah pinggir rambutku. Yes !! Yes..! YES!!…..I’m become Irfan Bachdim……yes, yes!!….aku kegirangan, meloncat-loncat sambil menengadahkan wajah ke atas, menyilangkan jempol dan telunjukku ke bibir. Teringat gayanya dia, waktu bikin gol. Kontan, seluruh pemain bingung, ‘Irfan, what a hell you’re doing?’ teriak Riedl dari pinggir lapang. Kukuasai diri, sambil mengangkat jempol dan tersenyum , aku pun berlari mencari posisi.Hari ini, pertandingan melawan Malaysia…. lawan berseragam biru berpoles merah. Rata-rata berambut cepak ala mohawk. Ini adalah final AFF leg 2 ternyata…..tp koq okto main ya? (ah….namanya juga mimpi, bebas aja…).
Permainanpun berlangsung ketat, saling serang, saling jegal tapi tanpa sinar LASER la yaw.. Priiit, wasit Australia itu meniup peluit, tanda pelanggaran di kotak penalty. Firman bersiap menghadapi bola, ach aku ingat sekarang, tendangannya akan mengarah ke kanan, dan diblok ama si cengos Fahmi. Ketika Firman bersiap, dan peluit aba-aba berbunyi, aku langsung mendahului Firman, ku tendang bola mengarah ke sudut kanan. gawang. Si cengos sudah bergerak ke kiri gawang, dan gooool…….gemuruh teriakan penonton seperti air tsunami mengguyur seisi stadion. Sementara itu, Firman bengong melongo bingung, jatah tendangan penalti nya kuserobot tapi pemain lain berteriak histeris, memelukku….’Bachdim….bachdim, teriakan penonton dari arah VIP timur. Aku cengar-cengir, sambil berlari memunggut bola dari gawang si cengos dan berlari membawanya kembali ke tengah lapang…. 1 – 0. ‘Let’s play !! ‘ seruku sambil kutepuk kepalanya ke Safee yang merengutkan mukanya. Menit-menit berikutnya, berjalan sangat alot, ternyata Hariamau cepak ini gak mau begitu saja menyerah. Aku ingat, si Sapi’i ini akan mencetak gol yang kelimanya di menit 54. Begitu menit ke 52, aku dekati dia, sambil ku berkata ‘ Cam, mana awak nii, badan aja besa, tapi tak adeu adab…badan besa macam kerbau saja, tak adeu otak tau?’…. Kontan saja, si pi’i, muring-muring, konsentrasinya pecah dan menit ke 54, umpan Norsharul, tak jadi berujung gol. Menit berikutnya, pergantian pemain, aku melambaikan tangan, dan geleng2 kepala kepada wolfgang, minta jangan diganti. Terlihat, dia bicara serius dengan Riedl di bangku pemain cadangan. Pergantian pemainpun urung. Akhirnya Nasuha memecah kebuntuan, memberikan gol kedua. 2-0! Rajagobel, menarik semua pemain menjadi bertahan habis-habisan di belakang garis gawang. Aku bicara dengan okto, agar dia mendribel bola mengikut arah lariku ke tengah, tepat di area penalty, di depan pemain lawan, aku menjatuhkan diri ke samping, Amar Rohidlan, yang menjagaku, terkejut dan menjauh, menghindari pelanggaran, dan ketika itu okto langsung melepas tendangan ke arah kanan gawang, tepat mengenai tiang gawang. Kukejar bola muntah tersebut dan langsung ku oper ke belakang, ada gonzales disana. Tanpa banyak waktu, el-Loco langsung menghadiahkan tendangan keras ke arah Fahmi. Bola tak tertahankan….3-0. Safee mulai emosi, dia terus meracau, entah berkata apa…..laskar upin-ipin mulai panik dan hilang percaya diri. Babak kedua selesai, skor masih 3-0…perpanjangan waktu. Babak pertama perpanjangan tidak ada gol, tetapi pada babak keduanya, BePe masuk menggantikan Firman utina, Eka masuk mengganti okto. 3 striker sekaligus, Riedl mencoba menghindari adu penalty. Hasilnya mulai nampak, gawang si cengos dibombardir tendangan jarak jauh dari Eka, BePe dan El Loco. 2 menit menjelang berakhirnya babak perpanjangan waktu, El Loco yang berdiri bebas, mendapat umpan datar dari BePe, setelah berotak-atik dengan gua, The Bachdim jadi-jadian. Goool, stadion seolah mau runtuh….gemuruh penonton, letusan mercon menambah kemeriahan malam itu. Puas rasaya, melihat harimau ompong cepak tergeletak lunglai. Aku pun memeluk Gonzales, tapi terasa ada yang mengganjal di balik kaosku….oops, remote ajaib itu tertekan dan whoooozz, lompatan quantum berlarian di atas kepalaku….
Tiba-tiba saja, aku sudah berada dalam kumpulan orang berbusana blangkonan lengkap dengan beskap dan keris, di dalam ruangan besar, seperti aula…sayup-sayup suara gamelan jawa terdengar merdu, tetapi aku bisa merasakan ketegangan yang terjadi di ruangan ini. ‘Sendhiko kanjeng Sultan, pasukan sudah bersiap di perbatasan, TNI berada 20 km didepan..’ Ooowalaah, kini aku jadi Sultan Jogja, dan kini sedang bersiap perang melawan pasukan Koppasus dari TNI. Dan akupun berdiri mengacungkan tangan sambil mengepalkannya, lalu bernyanyi lantang …..
”Garuda didadaku, Garuda kebangganku…kuyakin hari ini pasti MENANG…………”