Sebagai seorang pengusaha kelas kakap yang sukses, aku punya banyak relasi yang bertebaran dimana-mana. Mulai dari pejabat lokal, selebrity, kolomnis, mantan jendral, mantan gubernur, rektor, pelatih dansa, mantan caleg, mantan hampir dipanggil menterisampai kandidat presiden. Aku punya proses perjalanan hidup yang panjang, jatuh bangun ribuan kali dalam berbisnis, jutaan kali ketanggor atau emang sengaja malah ‘nyaduk’ aturan undang-undang , ditipu milyaran dollar (atau sebaliknya) memenuhi catatan panjang kurikulum vitae-ku. Mungkin saja, Iwan Felas menciptakan lagu Bendo karena terinspirasi dari kehidupanku, yg malah melambungkan namanya, bukan aku. Berkat kedekatanku dengan teman sekampung, yang jadi pengusaha dan orang gede di negeri ini, aku bisa mendapat amanah, untuk memimpin sebuah organisasi olah raga Seni Gatrik. Olah raga yang paling digemari di negeri ini. Seni Gatrik, pada hakikatnya gabungan dari seluruh cabang olah raga juga olah seni, yaitu, lari, pukul, lempar, tendang, full body contact, lebih lengkap dari sekedar aikido atau bela diri jujitsu. Juga perpaduan akrobat, seni drama/acting, seni debat kusir, adu otot, adu domba, lebih seru daripada reality show penghuni terkilir. Pokoknya segala jenis jurus kekerasan, kelembutan, adu logika, adu nyali, politik praktis, semuanya terpadukan dalam seni Gatrik ini. ‘can you imagine, that??’
Sudah barang tentu, sebagai Ketua organisasi, maka seluruh keahlian dalam permainan strategi, pemutarbalikan opini dan pengerahan masa, sudah menjadi core competency-ku. I’m the master of expert.
Sungguh hal yang paling pantang bagiku, untuk melepaskan tampuk pimpinan kepada ketua baru, yg katanya akan reformis, akan merubah citra dan me-reformasi jiwa dari organisasi yang sekarang ada. Jaman boleh berubah, prestasi boleh digugat, tetapi semangat organisasi yang penuh intrik, tipu muslihat serta kental dengan power of game, tidak boleh berubah. Kami bagaikan cermin dari kehidupan masa lalu, yang selalu dicemooh, dikritik dan dicaci oleh kumpulan orang-orang yang hidup di luar system. Orang-orang yang tak berdaya, tidak kebagian kue, tidak punya kesanggupan menjarah, tidak cukup pandai untuk korupsi, dikarenakan posisi mereka yang berada di luar system. Jika kelak nanti, mereka masuk ke dalam system, mereka adalah kami, mereka berganti baju, dari reformis menjadi oportunis, tidak akan beda jauh dari kami, malah mungkin lebih serakah.
Kami punya statuta sendiri, suka-tidak suka, statuta inilah yang menjadi pijakan praktek keserakahan dan kesombongan, yang sudah diturunkan sejak era Qobil, ketika menentang perintah Allah, untuk tidak menikahi saudara kembarnya yang lebih cantik dari calon istrinya, sehingga berujung peristiwa pembunuhan pertama, ketika saudara kandungnya sendiri, meregang nyawa ditangannya.
Uang sudah bukan masalah bagiku, nama baik dan harga diri, tak jadi persoalan lagi, apalagi ketika pengadilan menghadiahiku gelar alumni penghuni rutan. Hanya satu yang akan kupegang teguh hingga akhir nanti, yaitu AMANAH. Amanah adalah titipan, sesuatu yang harus dijaga sampai sang empu memintanya kembali. Sang pemilik, adalah boss ku, atasanku, tuan besarku, junjunganku. Sang empu yang selalu memberikan motivasi, dorongan untuk berkuasa serta nafsu kepuasan, juga tentunya dukungan finansial. Agar semangat organisasi tetap menyebar ke seluruhan lapisan masyarakat, kekuasaan tak boleh jatuh ke tangan yang benar.( # lho?? ) Hanya tuan boss besarlah yang bisa memberhentikanku, menyuruhku agar tetap menggonggong atau meringkik, mengembik atau mendesis. Semua ada aturannya, semua ada pengaturnya, semua bisa diatur.
Perkenalkan, aku si Hurdi Nali, pemimpin masa kini, berjiwa masa lalu, tak peduli disayang atau dibenci seluruh negeri. Tak peduli ditentang hulubalang atau Raja sekalipun, karena posisiku sejajar simetris dengan mereka. Untukku Hidup hanya satu kali. Hidup menjadi berarti, jika dapat menjaga keyakinan serta harga diri dalam mempertahankan nilai-nilai semangat masa lalu. Masa lalu yang sudah berjasa membesarkan tulang cranium kepalaku serta rongga maxila dan mandibula mulutku, tetapi juga menyumbat saluran tuba estachius dan otitis eksterna sirkumskripta , sehingga aku terkena syndrome ketulian komplek atas saran dan kritik pada diriku. Aku tidak akan bergerak turun sejengkal pun, walau teriakan tukang parkir yang kerap menyuruhku mundur. Aku tidak akan meletakan lencana ketua organisasi ku, walaupun batalyon tempur angkatan darat, yang dikomandani jendral Joji, memberondong ku. Aku tidak akan bergeser lengser, hanya karena seorang anak muda akademisi kemaren sore, yang baru kenal kekuasaan, gara-gara dekat dengan tokoh yang akhirnya dipilih rakyat, membekukan formal organisasi. Pembekuan itu hanya akan membuat external hardening mirip formasi Alumuniom Oksida, tetapi tetap lumer dalam, bak es krim magfhum, yang ludes diserbu abg korban iklan.
Kita lihat saja, apakah Raja bimbang opodoyo negeri ini, berani bertaruh jabatan dengan boss tuanku abu sukar kepala batu. Karena aku yakin seyakin yakinnya, keyakinan ini akan membawa manfaat bagi kehidupan carut marut negeri antah berantah. Setidaknya, sampai tahun 2014 kelak. Semoga…………..
Kisah Hurdi Nali , the unwanted leader
Filed under fiction, opini pribadi
Sae HAT,,,,,asa di nagri dongeng puguh keiuna oge,,,,