Episod 1:
Cuaca di Madinah kala itu terik sekali, sehingga Kang Adun memutuskan untuk berdiam diri di dalam mesjid Nabawi sehabis shalat dzuhur berjamaah. Banyak juga jamaah yang duduk di mesjid, sambil berdzikir ataupun membaca Al-Qur’an.
Kang Adung mengambil Al Qur’an dari rak buku kecil didekat pilar Mesjid, sengaja dia mengambil posisi duduk, bersandar di bangunan tiang dekat ventilasi air conditioning yang menghembuskan angin dingin. Kang Adun duduk bersila, dengan tangan kanan memegang Al-Qur’an, sekali-kali merubah posisi kakinya.
Mulailah Kang Adun mengaji, mengeja ayat demi ayat dengan sesekali terbata-bata. [pahala orang yang membaca Qur’an dengan terbata-bata adalah double, yaitu pahala membaca dan pahala berupaya keras untuk bisa membaca, keyakinan kang Adun makin bersemangat mengeja ayat2 suci].
Mata pun akhirnya tak kuat menahan kantuk, tanganpun mulai pegal, setelah berpindah-pindah dari tangan kanan ke kiri, pun sebaliknya. Kang Adun mulai menaruh Al Qur’an di lantai karpet, didepan kakinya, sementara tangan menumpu ke lantai, sesekali ia membetulkan posisi peci di kepalanya.
Tiba-tiba seorang jamaah dari Timur Tengah (tak jelas dari negara mana), berjenggot tebal berwarna putih, memakai baju gamis dan bersorban, menghampiri kang Adun. Tak jelas apa yang diomongkan, tetapi nadanya seperti memprotes tindakan kang Adun sambil menunjuk-nunjuk Al-Qur’an yang terletak dibawah.
Kang Adun Cuma melongo, blass gak ada satu katapun yang dimengerti, tetapi menangkap maksudnya, bahwa si wan Arab ini marah-marah melihat Al-qur’an ditaruh di lantai. Bingung mau menjawab apa, akhirnya kata-kata yang keluar dari Kang Adun ”Cangkeul……ieu cangkeuuuuuul, wan !! “ sambil nunjuk-nunjuk siku tangannya….
Wan Arab akhirnya takluk ninggalin Kang Adun sambil geleng-geleng kepala. Tak lama kemudian, seorang jamaah lain memberikan dudukan Al Qur’an agar Kang Adun tidak meletakannya di lantai…. “Taah kitu atuuh, nuhun ah, syukron ” ujar Kang Adun…….
Episod 2:
Kang Adun semalam mimpi, melihat cahaya terang di raudah, mungkin saking girangnya bisa masuk ke raudah, setelah nunggu pintu mesjid dibuka sebelum adzan subuh. Sehabis shalat Ashar, Kang Adun tertunduk dalam, berdzikir dan bermunajat memintakan ampunan kepada Allah SWT. Suasana Nabawi yang sejuk dan tenang, makin membuat khusyuknya Kang Adun berdo’a. Dalam do’a nya, setelah mambaca ummul quran, surat Al Fatihah, lanjut dengan mengucap hamdallah serta bershalawat untuk Nabi, Kang Adun memintakan ampunan bagi dirinya, orang tua serta seluruh keluarganya….menunduk makin dalam, memejamkan mata makin khusyu, seakan dia tenggelam dalam keheningan do’anya…. Tiba-tiba dia merasakan cahaya terang dari atas kepala menyinari dirinya, seolah sesuatu sedang mendekatinya, semakin lama semakin terang benderang terasa ”Inilah tanda-tanda diijabahnya do’a ku oleh Yang Maha Kuasa atau mungkin aku sedang didatangi malaikat” bisiknya dalam hati. Adun semakin khusyu menjadi-jadi, seakan mendapatkan kharomah luar biasa…. Tapi lama kelamaan, dia penasaran, apakah sinar yang terasa merupakan mukjijat yang luar biasa karena dia sadar sepenuhnya sedang berada didalam mesjid Nabawi. Dibukalah matanya seraya mendongakan kepalanya keatas….”Subhanallah !!” ujarnya kaget.
Ternyata Kang Adun duduk persis dibawah kubah mesjid yang dapat bergeser membuka perlahan, sehingga cahaya matahari yang masih terang masuk kedalam mesjid Nabawi…
“Kirain cahaya mukjijat, ….ternyata memang cahaya matahari yang masuk” pikirnya geli karena ge-er didatangi cahaya malaikat didalam mesid Nabawi.
Episod 3:
Hari itu hari Jum’at. Selepas shalat subuh, kang Adun pulang dari masjidil haram ke pondokan di daerah Hafair. Di perjalanan dia melewati antrian panjang jamaah haji. Kang Adun pun cepat-cepat masuk dalam barisan, pikirnya ada syekh yang bersedekah sedang bagi-bagi makanan. Kemarin aja kang Denden (teman sepondokan) membawa pulang kotak makanan, katanya dapat antri di dekat mesjid. Saking panjangnya antrian, kang Adun gak bisa lihat, dimana awal antrian, soalnya masuk ke dalam semacam bangunan ruko. Orang yang ikut antri dibelakang, menggumam sesuatu seolah menyuruh keluar dari barisan, tetapi kang adun gak ngerti soalnya dalam bahasa India. Kemudian, orang yang di depannya pun berbicara sesuatu sambil nunjukan passport-nya dia. Kang Adun mulai jengkel, enak aja udah dalam antrian disuruh keluar, masak buat dapatin sedekah makanan aja, musti ngeliatin passport, ini India mau nakut-nakutin aja pikirnya. Antrianpun semakin maju kedepan, dan ketika masuk ke dalam ruko, terlihat akhir antrian di sebuah meja. Seorang petugas terlihat memeriksa surat-surat serta passport jamaah, sambil membubuhkan cap di surat yang dibawa. Oooh ternyata, ini adalah antrian jamaah India, yang sedang me-regristasi jamaah, mungkin untuk rencana kepulangan mereka. Kang Adun pun keluar antrian sambil cengar-cengir.
Episod 4:
Mas Adi ngajak kang adun buat dapetin buku gratis di pelataran mesjid Nabawi. Setelah antri dan agak berebut, dapatlah sebuah buku kecil berisi nasehat ulama yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Dengan wajah yang sumringah, kang adun pun bergegas meninggalkan loket pembagian yang tambah ramai, sambil membaca buku tersebut. Tiba-tiba ada seorang pemuda asal india menepuk pundaknya, ”Urdu behe..?” ujarnya dengan nada meninggi. Kang Adun pun secara refleks menjawab asal : ” Beehe….”.
Pemuda india itu pun bergegas menerobos kerumunan orang yang mengantri untuk mendapatkan buku. Tak lama berselang, si pemuda datang lagi sambil membawa buku yang sama, yang dia dapatkan. Terdengar mengomel sambil menunjuk-nunjuk buku ke kang adun yang cuma bisa melongo. Rupanya, buku yang dibagikan hanya versi bahasa Indonesia, tidak ada versi lain. Akhirnya, si pemuda itu memberikan buku dan pergi meninggalkan kang adun. Ketika ditanya ama mas Adi, kenapa pemuda itu terlihat kesal, kang adun malah balik bertanya: ”emang kalo behe artinya apa ??”
Episod 5:
Ketika perjalanan pulang ke tanah air, kelompok jamaah kang adun naik Saudi Air.
Pembagian makan pun tiba, pramugari cantik berparas timur tengah itu mulai membagikan baki berisikan menu ayam bumbu komplit dengan nasi. Di seberang tempat duduk, pak ustad Komar, yang fasih berbahasa arab, terlihat berbicara sesuatu dengan pramugari tersebut. Kemudian dia mendapatkan set makanan dengan menu bistik. Ketika giliran kang Adun mendapatkan baki berisi menu ayam, dia menolak sambil menunjuk-nunjuk ke arah ustad komar. ”sem-sem….” ujar kang adun. Sang pramugari cantik terlihat menggeleng-gelengkan kepala tanda gak ngerti apa yang dimaksud. Akhirnya, kang Adun teringat sesuatu, lalu berbicara dengan pede-nya ”Ay won Al Baqoroh….”. Akhirnya sang paramugari pun mengganti makanan kang adun dengan bistik sapi, sambil tersenyum simpul.
Episod 6:
Susah sekali menghilangkan kefanatikan dalam menjalankan ritual ibadah, tanpa ilmu dan hujjah yang kuat dan jadinya hanya berdasarkan perkataan gurunya saja. Kisah kang Adun shalat berjamaah yang berimam kepada temannya, sebut saja kang Ocin, yang berbeda paham tentang bacaan rukuk dan sujud. Kalo kang Ocin, membaca do’a rukuk dan sujud diakhiri kalimat ” wabdi hamdi..” sedangkan kata kang adun, itu mah bid’ah, soalnya, lagi-lagi, kata gurunya gak pake bacaan tersebut.
Dasar kang Ocin, walau telah diingatkan kang Adun sebelum shalat, agar gak pake wabdi hamdi , malah disengajain dibaca keras ketika rukuk di rakaat pertama. ”Subhana robbiyal adziim….Wabdi Hamdiii” Ketika sujud diulang lagi dibaca keras ”Subhana robbiyal a’la….Wabdi Hamdiii”, seolah mengejek kang Adun. Masuk rakaat kedua, kang Adun pun bersiap meladeni, manuver kang Ocin.
Dan ketika kang Ocin mulai membaca do’a rukuk : ”Subhana robbiyal azdiim…” Kang Adun langsung menyela dengan agak keras ”Tanpaaaa.…” dan kang Ocin pun melanjutkan ”..wabdi hamdiiii.” Kang adun tersenyum menang>….
Tunggu episod selanjutnya
Asa apal dongengna,,,,,deja vu tea panginten nya HAT,,,
@DS, he he..pan ka-pilem tah sakedik, haji ageung teh. ALhamdulillah, tiasa sararengan kapungkur, nuhun ah kang haj